Monday, June 18, 2018


Tugas Final sosio antropologi
ARTIKEL
PERSEPSI KONSEP SEHAT DAN SAKIT MASYARAKAT SUKU TOLAKI TENTANG PENYAKIT DIARE DAN PENCARIAN PENGOBATANYYA DI DAERAH KEL. TUDAONE KEC. KONAWE KAB. KONAWE
SULAWESI TENGGARA



OLEH :
SITTI ZAHRA AULIA NAZAR
J1A1 17 336
KESEHATAN LINGKUNGAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018


Persepsi konsep sehat dan sakit masyarakat suku tolaki tentang penyakit diare dan pencarian pengobatannya di daerah Kelurahan Tudaone, Kecamatan Konawe
Kabupaten Konawe

            Pernah menderita penyakit diare? Tentunya pernah dan sangat tidak nyaman untuk kondisi mood kita. Penyakit diare sendiri merupakan kondisi tubuh yang terjadi dengan ditandainya encernya tinja yang dikeluarkan dengan frekuensi buang air besar (BAB) yang lebih sering dibandingkan biasanya.
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di dalam masyarakat Indonesia. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 2007, diare menduduki peringkat ketigabelas sebagai penyebab kematian semua umur dengan proporsi sebesar 3,5 persen. Sedangkan berdasarkan kategori penyakit menular, diare menduduki urutan ketiga penyebab kematian setelah Pneumonia dan TBC. Dari data tersebut, golongan usia yang paling banyak mengalami diare adalah balita dengan prevalensi sebesar 16,7 persen. Menurut data Kemenkes terkait penyakit diare  tahun 2009, dari 3037 kasus yang ada di Indonesia Sulawesi Tenggara hanya 1 kali mengalami KLB (Kejadian Luar Biasa) penyakit diare. Walaupun begitu, sudah seharusnya kita perlu mecegah karena hal ini jauh lebih baik daripada mengobati.

Persepsi sehat – sakit terkait penyakit diare menurut masyarakat Suku Tolaki Kelurahan Tudaone Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe
WHO mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan sosial seseorang. Sebatas mana seseorang dapat dianggap sempurna jasmaninya? Oleh para ahli kesehatan, antropologi kesehatan dipandang sebagai disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentangcara-cara interaksi antara keduanya sepanjang sejarah kehidupan manusia yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit.
 Penyakit sendiri ditentukan oleh budaya hal ini karena penyakit merupakan pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapatmenjalankan peran normalnya secara wajar. Cara hidup dan gaya hidup manusia merupakan fenomena yang dapat dikaitkan dengan munculnya berbagai macam penyakit, selain itu hasil berbagai kebudayaan juga dapat menimbulkan penyakit. Masyarakat dan pengobat tradisional menganut dua konsep penyebab sakit, yaitu:Naturalistik dan Personalistik. Penyebab bersifat Naturalistik yaitu seseorangmenderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan), kebiasaan hidup, ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas dinginseperti masuk angin dan penyakit bawaan.
Konsep sehat sakit yang dianut masyarakat suku tolaki setempat, yakni suatu keadaan yang berhubungan dengan keadaan badan atau kondisi tubuh kelainan-kelainan serta gejala yang dirasakan. Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal, wajar, nyaman, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan gairah. Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat. Konsep Personalistik menganggap munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk bukan manusia (hantu,roh, leluhur atau roh jahat), atau makhluk manusia (tukang sihir, tukang tenung). Seperti halnya dengan penyakit diare, hal ini merupakan penyakit yang sampai saat ini masih sering terjadi di kalangan masyarakat Suku Tolaki setempat.
Perilaku masyarakat suku tolaki tentang pengatahuan sehat sakit sangat di dasari oleh konsep naturalistik. Dari hasil penelusuran masyarakat suku tolaki terkait penyakit diare akan adanya penyebab klinis atau gejala klinis dari penyakit ini seperti contohnya sakit perut, hingga buang air besar yang berkepanjangan yang jika dibiarkan akan menyebabkan dehidrasi dan juga dapat mengakibatkan demam. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat suku tolaki setempat sudah mengerti akan perilaku dan tindakan yang dihadapinya untuk sebuah penyembuhan.
Secara umum, terdapat  persepsi yang mengatakan bahwa bagi orang dewasa, seseorang dinyatakan sakit kalau sudah tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, tidak enak badan, panas dingin, pusing, lemas, kurang darah, batuk-batuk, mual, diare. Dan juga bahwa anak sakit dilihat dari keadaan fisik tubuh dan tingkah lakunya yaitu jikamenunjukkan gejala misalnya panas, batuk pilek, mencret, muntah-muntah, gatal,luka, gigi bengkak, badan kuning, kaki dan perut bengkak. Terkait penyakit diare, dilihat dari perilaku masyarakat Suku Tolaki Kelurahan Tudaone Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe, Untuk gejala sendiri baik pada orang dewasa maupun anak-anak saling memperlihatkan gejala yang sama yakni sakit perut, hingga buang air dalam jumlah yang banyak. Untuk penyembuhannya bagi orang dewasa biasanya sembuh setelah 2-4 hari. Sedangkan pada anak-anak, diare biasanya berlangsung lebih lama, yaitu antara 5-7 hari. Hal inilah yang masih menjadi masalah bila balita terkena penyakit diare, masyarakat setempat cenderung bingung untuk memberikan penanganan seperti apa, dimana anak yang sakit ditandai dengan tingkah laku rewel sehingga membuat para orang tua jauh lebih khawatir dengan kondisi tidak nyaman si balita.
Pengobatan yang biasa dilakukan masyarakat suku tolaki untuk menangani masalah penyakit diare
Pengobatan penyakit diare Masyarakat Suku Tolaki Kelurahan Tudaone Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe dikenal dengan dua cara, yaitu pengobatan secara non medis atau biasa pula disebut pengobatan tradisional dan pengobatan secara medis. Untuk  jelasnya dipaparkan sebagai berikut:

1.      Pengobatan Secara Non Medis
Pengobatan non medis adalah pengobatan yang dilakukan oleh bantuan seseorang yang pintar mengobati penyakit yang ilmunya didapatkan dari nenek moyang atau lewat mimpi dan bantuan makhluk gaib. Pengobatan non medis ditangani oleh seorang dukun. Pengobatan non medis biasa juga disebut dengan pengobatan tradisional karena bersifat alamiah tanpa bahan kimiawi. Pelaku utama yaitu dukun (sando) membuat aturan dan pantangan pelaksanaan pengobatan yang harus dipatuhi oleh masyarakat pendukungnya. Keberadaan pengobatan tradisional dalam kehidupan sehari-hari dirasakan sangat membantu masyarakat dalam mengatasi gangguan kesehatan dengan proses yang cepat karena tidak berbelitbelit melalui suatu birokrasi yang panjang. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh masyarakat Suku Tolaki Kelurahan Tudaone Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe dalam memilih jenis pengobatan non medis untuk masalah kesehatan yang mereka hadapi, yaitu:
a.       Mereka malas pergi ke Poskesdes karena tenaga medis yang ada kadang tidak berada di tempat.
b.      Kunjungan tenaga medis dari Puskesmas hanya datang seminggu sekali.
c.       Adanya rasa sungkan kepada bidan desa karena tidak akrab sedangkan kalau sando sudah dikenal karena merupakan masyarakat kampung tersebut jadi dianggap orang tua sendiri.
d.      Pertolongan pengobatan kepada sando cepat dilakukan karena tidak melewati birokrasi yang berbelit-belit.
e.       Kalau berobat kepada sando tidak mengenal batas waktu, 24 jam dapat ditemui.
f.       Faktor ekonomi, dimana sando tidak pernah meminta bayaran akan tetapi menurut keikhlasan dan dapat diberikan lain waktu jika sudah ada rejeki.
g.      Pengalaman sando dalam hal pengobatan sudah dipercaya oleh masyarakat setempat bahkan masyarakat luas di luar desa sang penyembuh.

Para Sando umumnya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh tenaga medis, yaitu kelebihan bersifat gaib berupa kekuatan mantra-mantra. Pilihan pengobatan non medis oleh masyarakat tidak terlepas dari pengalaman sando yang secara turun temurun dipercaya masyarakat untuk mengobati penyakit yang diderita. Pada  masa lalu sebelum poskesdes masuk di desa, masyarakat menggunakan jasa sando sehingga sudah merasa cocok dengan pengobatan yang diberikan dan ketika poskesdes sudah ada dan tenaga medisnya ada, masyarakat merasa enggan lagi untuk berobat ke poskesdes,.

Teknik yang biasa dilakukan para Sando yakni dengan melaukukan mbo’uwai yakni teknik yang berasal dari ramuan obat yang diracik secara alamiah tanpa bahan kimia akan kemudian setelah ramuan yang telah diracik akan diberikan kepada pasien, Sando akan membacakan mantra-mantra pada ramuannya, setelah itu pasien boleh meminumnya atau mengoles pada bagian yang sakit, untuk keseluruhan semua penyakit metode ini perlahan mulai tergerus oleh perkembangan teknologi kesehatan yang ada. Terlebih sudah ada jasa pelayanan kesehatan gratis seperti Askes mauapun BPJS. Tetapi dalam hal menangani masalah penyakit diare Masyarakat Suku Tolaki setempat, masih menggunakan pengobatan non medis oleh para Sando yakni biasanya dengan merebus daun jambu lalu diminum oleh si pasien untuk meredakan rasa sakit perut dan menyembuhkan penyakit diare itu sendiri.

2.      Pengobatan Secara Medis
Pengobatan medis yaitu pengobatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih yang didapatkan lewat proses pembelajaran di bangku pendidikan. Pengobatan secara medis merupakan jenis pengobatan modern di mana resep obat yang diberikan tidak didapatkan secara alamiah pada alam akan tetapi di racik secara kimiawi sehingga obat yang dihasilkan berkhasiat menyembuhkan karena sudah melewati proses penelitian oleh tenaga ahli profesional. Peralatan yang digunakan sudah modern. Setiap peralatan dan obat yang dihasilkan berdasarkan hasil riset yang terus diinovasikan berdasarkan perkembangan zaman yang semakin modern.
Dalam kasus penyakit diare masyarakat Suku Tolaki Setempat jarang untuk melakukan pengobatan secara medis terkait penyakit ini, karena mereka beranggapan bahwa penyakit ini masih dalam kategori sedang dan dapat diobati dengan pengobatan non medis. Terkecuali untuk penyakit diare yang bahkan sudah bercampur dengan penyakit lain dalam artian si pasien telah mengalami komplikasi maka, biasanya Masyarakat Suku Tolaki setempat akan membawa si pasien tersebut untuk dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten Konawe.

Kesimpulan
Konsep sehat sakit yang dianut masyarakat Suku Tolaki setempat, yakni suatu kondisi  yang berhubungan dengan keadaan badan ataupun tubuh yang mengalami kelainan-kelainan serta gejala yang dirasakan. Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal, wajar, nyaman, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengangairah. Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat.
            Adapun pengobatan yang biasa dilakukan masyarakat suku tolaki yakni dengan pengobatan medis ataupun nonmedis. Dimana non medis dapat berupa mbo’wai dari sando suku tolaki dengan membacakan mantra, atau dengan merebus ramuan tanaman yang berkhasiat dapat meredakan penyakit diare seseorang.