Tugas
Final sosio antropologi
ARTIKEL
PERSEPSI KONSEP SEHAT DAN SAKIT MASYARAKAT SUKU
TOLAKI TENTANG PENYAKIT DIARE DAN PENCARIAN PENGOBATANYYA DI DAERAH KEL.
TUDAONE KEC. KONAWE KAB. KONAWE
SULAWESI TENGGARA

OLEH :
SITTI
ZAHRA AULIA NAZAR
J1A1
17 336
KESEHATAN
LINGKUNGAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
Persepsi konsep sehat dan sakit
masyarakat suku tolaki tentang penyakit diare dan pencarian pengobatannya di
daerah Kelurahan Tudaone, Kecamatan Konawe
Kabupaten Konawe
Pernah menderita penyakit diare?
Tentunya pernah dan sangat tidak nyaman untuk kondisi mood kita. Penyakit diare
sendiri merupakan kondisi tubuh yang terjadi dengan ditandainya encernya tinja
yang dikeluarkan dengan frekuensi buang air besar (BAB) yang lebih sering
dibandingkan biasanya.
Penyakit
diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti
di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Diare
merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di dalam masyarakat Indonesia.
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 2007,
diare menduduki peringkat ketigabelas sebagai penyebab kematian semua umur
dengan proporsi sebesar 3,5 persen. Sedangkan berdasarkan kategori penyakit
menular, diare menduduki urutan ketiga penyebab kematian setelah Pneumonia dan
TBC. Dari data tersebut, golongan usia yang paling banyak mengalami diare
adalah balita dengan prevalensi sebesar 16,7 persen. Menurut data Kemenkes
terkait penyakit diare tahun 2009, dari
3037 kasus yang ada di Indonesia Sulawesi Tenggara hanya 1 kali mengalami KLB
(Kejadian Luar Biasa) penyakit diare. Walaupun begitu, sudah seharusnya kita
perlu mecegah karena hal ini jauh lebih baik daripada mengobati.
Persepsi sehat – sakit terkait penyakit diare menurut masyarakat Suku Tolaki
Kelurahan Tudaone Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe
WHO
mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani,
rohani, maupun kesejahteraan sosial seseorang. Sebatas mana seseorang dapat
dianggap sempurna jasmaninya? Oleh para ahli kesehatan, antropologi kesehatan
dipandang sebagai disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada aspek-aspek
biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentangcara-cara
interaksi antara keduanya sepanjang sejarah kehidupan manusia yang mempengaruhi
kesehatan dan penyakit.
Penyakit sendiri ditentukan oleh budaya hal ini
karena penyakit merupakan pengakuan sosial bahwa seseorang tidak
dapatmenjalankan peran normalnya secara wajar. Cara hidup dan gaya hidup
manusia merupakan fenomena yang dapat dikaitkan dengan munculnya berbagai macam
penyakit, selain itu hasil berbagai kebudayaan juga dapat menimbulkan penyakit.
Masyarakat dan pengobat tradisional menganut dua konsep penyebab sakit,
yaitu:Naturalistik dan Personalistik. Penyebab bersifat Naturalistik yaitu
seseorangmenderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan),
kebiasaan hidup, ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas
dinginseperti masuk angin dan penyakit bawaan.
Konsep sehat
sakit yang dianut masyarakat suku tolaki setempat, yakni suatu keadaan yang
berhubungan dengan keadaan badan atau kondisi tubuh kelainan-kelainan serta
gejala yang dirasakan. Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal,
wajar, nyaman, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan gairah.
Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan,
bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat
menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat. Konsep
Personalistik menganggap munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh
intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk bukan manusia (hantu,roh,
leluhur atau roh jahat), atau makhluk manusia (tukang sihir, tukang tenung).
Seperti halnya dengan penyakit diare, hal ini merupakan penyakit yang sampai
saat ini masih sering terjadi di kalangan masyarakat Suku Tolaki setempat.
Perilaku
masyarakat suku tolaki tentang pengatahuan sehat sakit sangat di dasari oleh
konsep naturalistik. Dari hasil penelusuran masyarakat suku tolaki terkait
penyakit diare akan adanya penyebab klinis atau gejala klinis dari penyakit ini
seperti contohnya sakit perut, hingga buang air besar yang berkepanjangan yang
jika dibiarkan akan menyebabkan dehidrasi dan juga dapat mengakibatkan demam. Hal
ini menunjukan bahwa masyarakat suku tolaki setempat sudah mengerti akan
perilaku dan tindakan yang dihadapinya untuk sebuah penyembuhan.
Secara umum,
terdapat persepsi yang mengatakan bahwa bagi
orang dewasa, seseorang dinyatakan sakit kalau sudah tidak bisa bekerja, tidak
bisa berjalan, tidak enak badan, panas dingin, pusing, lemas, kurang darah,
batuk-batuk, mual, diare. Dan juga bahwa anak sakit dilihat dari keadaan fisik
tubuh dan tingkah lakunya yaitu jikamenunjukkan gejala misalnya panas, batuk
pilek, mencret, muntah-muntah, gatal,luka, gigi bengkak, badan kuning, kaki dan
perut bengkak. Terkait penyakit diare, dilihat dari perilaku masyarakat Suku
Tolaki Kelurahan Tudaone Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe, Untuk gejala
sendiri baik pada orang dewasa maupun anak-anak saling memperlihatkan gejala
yang sama yakni sakit perut, hingga buang air dalam jumlah yang banyak. Untuk
penyembuhannya bagi orang dewasa biasanya sembuh setelah 2-4 hari. Sedangkan
pada anak-anak, diare biasanya berlangsung lebih lama, yaitu antara 5-7 hari.
Hal inilah yang masih menjadi masalah bila balita terkena penyakit diare,
masyarakat setempat cenderung bingung untuk memberikan penanganan seperti apa,
dimana anak yang sakit ditandai dengan tingkah laku rewel sehingga membuat para
orang tua jauh lebih khawatir dengan kondisi tidak nyaman si balita.
Pengobatan yang biasa dilakukan
masyarakat suku tolaki untuk menangani masalah penyakit diare
Pengobatan
penyakit diare Masyarakat Suku Tolaki Kelurahan Tudaone Kecamatan Konawe
Kabupaten Konawe dikenal dengan dua cara, yaitu pengobatan secara non medis
atau biasa pula disebut pengobatan tradisional dan pengobatan secara medis.
Untuk jelasnya dipaparkan sebagai
berikut:
1. Pengobatan
Secara Non Medis
Pengobatan
non medis adalah pengobatan yang dilakukan oleh bantuan seseorang yang pintar
mengobati penyakit yang ilmunya didapatkan dari nenek moyang atau lewat mimpi
dan bantuan makhluk gaib. Pengobatan non medis ditangani oleh seorang dukun.
Pengobatan non medis biasa juga disebut dengan pengobatan tradisional karena
bersifat alamiah tanpa bahan kimiawi. Pelaku utama yaitu dukun (sando) membuat
aturan dan pantangan pelaksanaan pengobatan yang harus dipatuhi oleh masyarakat
pendukungnya. Keberadaan pengobatan tradisional dalam kehidupan sehari-hari
dirasakan sangat membantu masyarakat dalam mengatasi gangguan kesehatan dengan
proses yang cepat karena tidak berbelitbelit melalui suatu birokrasi yang
panjang. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh masyarakat Suku Tolaki
Kelurahan Tudaone Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe dalam memilih jenis
pengobatan non medis untuk masalah kesehatan yang mereka hadapi, yaitu:
a. Mereka
malas pergi ke Poskesdes karena tenaga medis yang ada kadang tidak berada di
tempat.
b. Kunjungan
tenaga medis dari Puskesmas hanya datang seminggu sekali.
c. Adanya
rasa sungkan kepada bidan desa karena tidak akrab sedangkan kalau sando sudah
dikenal karena merupakan masyarakat kampung tersebut jadi dianggap orang tua
sendiri.
d.
Pertolongan pengobatan kepada sando cepat
dilakukan karena tidak melewati birokrasi yang berbelit-belit.
e. Kalau
berobat kepada sando tidak mengenal batas waktu, 24 jam dapat ditemui.
f. Faktor
ekonomi, dimana sando tidak pernah meminta bayaran akan tetapi menurut
keikhlasan dan dapat diberikan lain waktu jika sudah ada rejeki.
g. Pengalaman
sando dalam hal pengobatan sudah dipercaya oleh masyarakat setempat
bahkan masyarakat luas di luar desa sang penyembuh.
Para Sando umumnya memiliki
kelebihan yang tidak dimiliki oleh tenaga medis, yaitu kelebihan bersifat gaib
berupa kekuatan mantra-mantra. Pilihan pengobatan non medis oleh masyarakat
tidak terlepas dari pengalaman sando yang secara turun temurun dipercaya
masyarakat untuk mengobati penyakit yang diderita. Pada masa lalu sebelum poskesdes masuk di desa,
masyarakat menggunakan jasa sando sehingga sudah merasa cocok dengan
pengobatan yang diberikan dan ketika poskesdes sudah ada dan tenaga medisnya
ada, masyarakat merasa enggan lagi untuk berobat ke poskesdes,.
Teknik yang biasa dilakukan para Sando yakni dengan melaukukan mbo’uwai yakni teknik yang berasal dari
ramuan obat yang diracik secara alamiah tanpa bahan kimia akan kemudian setelah
ramuan yang telah diracik akan diberikan kepada pasien, Sando akan
membacakan mantra-mantra pada ramuannya, setelah itu pasien boleh meminumnya
atau mengoles pada bagian yang sakit, untuk keseluruhan semua penyakit metode
ini perlahan mulai tergerus oleh perkembangan teknologi kesehatan yang ada.
Terlebih sudah ada jasa pelayanan kesehatan gratis seperti Askes mauapun BPJS.
Tetapi dalam hal menangani masalah penyakit diare Masyarakat Suku Tolaki
setempat, masih menggunakan pengobatan non medis oleh para Sando yakni biasanya dengan merebus daun jambu lalu diminum oleh si
pasien untuk meredakan rasa sakit perut dan menyembuhkan penyakit diare itu
sendiri.
2. Pengobatan
Secara Medis
Pengobatan medis yaitu pengobatan yang dilakukan
oleh tenaga kesehatan terlatih yang didapatkan lewat proses pembelajaran di
bangku pendidikan. Pengobatan secara medis merupakan jenis pengobatan modern di
mana resep obat yang diberikan tidak didapatkan secara alamiah pada alam akan
tetapi di racik secara kimiawi sehingga obat yang dihasilkan berkhasiat
menyembuhkan karena sudah melewati proses penelitian oleh tenaga ahli
profesional. Peralatan yang digunakan sudah modern. Setiap peralatan dan obat
yang dihasilkan berdasarkan hasil riset yang terus diinovasikan berdasarkan
perkembangan zaman yang semakin modern.
Dalam kasus penyakit diare masyarakat Suku Tolaki
Setempat jarang untuk melakukan pengobatan secara medis terkait penyakit ini,
karena mereka beranggapan bahwa penyakit ini masih dalam kategori sedang dan
dapat diobati dengan pengobatan non medis. Terkecuali untuk penyakit diare yang
bahkan sudah bercampur dengan penyakit lain dalam artian si pasien telah
mengalami komplikasi maka, biasanya Masyarakat Suku Tolaki setempat akan
membawa si pasien tersebut untuk dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten Konawe.
Kesimpulan
Konsep
sehat sakit yang dianut masyarakat Suku Tolaki setempat, yakni suatu kondisi yang berhubungan dengan keadaan badan ataupun tubuh
yang mengalami kelainan-kelainan serta gejala yang dirasakan. Sehat bagi
seseorang berarti suatu keadaan yang normal, wajar, nyaman, dan dapat melakukan
aktivitas sehari-hari dengangairah. Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu
keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan
sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari
seperti halnya orang yang sehat.
Adapun pengobatan yang biasa
dilakukan masyarakat suku tolaki yakni dengan pengobatan medis ataupun
nonmedis. Dimana non medis dapat berupa mbo’wai
dari sando suku tolaki dengan
membacakan mantra, atau dengan merebus ramuan tanaman yang berkhasiat dapat
meredakan penyakit diare seseorang.
